Hilang.. Semuanya hilang. Ya, menghilang.
Aku yang membuat mereka hilang..
Teruntuk teman dekatku, kau benar, aku egois.
Aku tak yakin pertemanan kita akan berlanjut atau sampai disini saja. Melihat kau begitu kecewa kepadaku. Hari ini, aku baru merasakan kasih sayang tulus sahabatku. Maafkan aku yang bisa membuatmu seperti ini. Aku tak bisa membanggakan engkau. Terimakasih atas hari ini. Hari yang mengharuskanmu bawel kepadaku yang keras kepala.
Aku sengaja mematikan handphone-ku, aku tak kuasa melihat semua isi pesanmu yang betul betul sangat marah, mungkin, atas tindakanku belakangan ini. Temanku, aku seperti kehilangan lagi sosok-sosok yang sangat aku sayangi. Tuhan, cukup. Maafkan aku. Aku tak bisa setegar itu. Apa aku harus menyerah? Semuanya hilang, kunci semangatku telah hilang entah kemana. Gara-gara tak ku simpan dengan baik.
Aku memang tak ingin kau tau atas semua kerapuhanku. Seharusnya aku tak memberi tahu. Seharusnya aku diam saja seperti sebelum-sebelumnya. Dengan tawa seikhlas mungkin yang aku buat. Seperti itu saja seharusnya, yang lainnya tak perlu. Kau, ah sudahlah, aku hampir putus asa. Tak tahu caranya untuk membujuk. Kali ini mungkin memang aku yang salah. Aku yang tak bisa sekuat dan sebahagia dirimu.
Temanku. Aku masih ingin menjadi yang terdekat untuk kamu. Yang bisa terus bercerita sampai larut malam dan berganti hari. Yang sangat antusias bila diajak bermain kemanapun itu kamu menyanggupi. Aku masih ingin menemuimu di hari ulang tahunmu. Apa kau masih mau menganggapku yang super egois ini menjadi temanmu? Teman dekatmu?
Aku hilang arah. Semua sudah coba aku lakukan, akan aku buktikan bahwa aku bisa, dengan caraku sendiri. Melupakan yang tak seharusnya aku simpan terus dalam memori otakku. Rasanya penat. Kau seakan seperti orang tuaku yang menasehati anaknya dengan sangat. Berharap bahwa anaknya itu tak salah arah, tak hilang tujuan. Itu sekarang yang aku lihat darimu. Seperti itulah caramu tadi menunjukkan betapa pedulinya kamu dengan temanmu yang bodoh ini, terlalu dibutakan. Tangisku semakin menjadi-jadi. Jangan sampai aku mengantuk malam ini, sungguh, aku tak ingin ini masuk dalam mimpiku menjadi cerita yang buruk. Aku ingin terjaga.
Kawanku, dengar. Dia bukan malaikat, dia juga bukan seorang pangeran, dia bukan satu-satunya. Tapi sangat membigungkan. Hati dan otakku bekerja sama terus saja memutar memori bersamanya. Terus, tanpa henti, setiap detik. Kau pun tau kawanku, aku tak bisa lepas dengan mudah darinya. Aku selalu berusaha, pasti. Ku belikan semua uang saku ku untuk membeli buku dengan niat aku bisa berhadapan terus dengan alur cerita yang ku baca lalu setelahnya aku bisa melupakannya. Tapi sama saja, tak berhasil. Begitupun dengan aktifitas yang lain.
Sungguh, aku ini lemah. 2 tahun yang lalupun sama seperti ini, waktu dia ingin menyudahi, aku menelfonmu dan menangis dari ujung telfon itu. Pagi-pagi buta kau harus mendengar aku menagisinya, dan kau memberiku semangat untuk terus meneruskan hidupku saat itu. Dan sekarangpun sama, tapi bedanya, kali ini aku tak berani menagis dihadapanmu. Aku malu, aku tak bisa mengendalikan diriku. Biarkan kau anggap bahwa aku ini baik-baik saja. Aku tak perlu merepotkanmu dengan harus bercerita tentang seorang laki-laki yang sama.
Aku akui, selama ini aku tak tahu harus berbuat apa. Merenung, sendirian, menata lagi hati yang aku rasa cukup sulit, lalu berpikir apa yang akan aku lakukan setelah ini. Maafkan aku, aku seegois ini. Aku sungguh-sungguh tak menyangka bahwa akhirnya ada tangis juga yang pecah gara-gara aku. Aku tak memikirkan orang lain. Jika kau mulai muak denganku, baiklah aku akan terima itu. Maksudnya mencoba menerima, karna sesunguhnya kehilangan orang yang aku sayang untuk kedua kalinya aku tak yakin akan menjadi seperti apa hidupku. Aku, Kau, dan Dia, kita semua bertemu dalam tahun yang sama. Aku anggap kalianlah yang sangat mengenal aku.
Biarkan aku sendiri dulu merasakan ini, terpuruk seperti ini. Akan ku dekatkan kembali diriku dengan Sang Pemilik Hati, dan keluarga kecilku yang aku banyak kehilangan waktu bersama mereka. Teruntuk teman-temanku yang lain, maafkan aku sekali lagi, maaf. Bukan aku yang so kuat. Kalian pasti teristimewa, hatiku saja yang keras kepala, membatu. Hukum saja aku, dengan perasaan bodoh seperti ini.
Dan untuk Sahabatku--kawanku--teman dekatku, aku berharap kamu bersedia menerima maafku, tak perlu kau harus sebaik itu lagi kepadaku, itu sudah cukup, lebih dari cukup, aku tak mau merepotkanmu lagi. Aku tak ingin pikiranmu lelah hanya memikirkan persoalan tentangku, biarkan saja. Obatmu lebih banyak dari yang kubayangkan, minumlah dengan teratur, jangan banyak merokok!
Dan untuk Sahabatku--kawanku--teman dekatku, aku berharap kamu bersedia menerima maafku, tak perlu kau harus sebaik itu lagi kepadaku, itu sudah cukup, lebih dari cukup, aku tak mau merepotkanmu lagi. Aku tak ingin pikiranmu lelah hanya memikirkan persoalan tentangku, biarkan saja. Obatmu lebih banyak dari yang kubayangkan, minumlah dengan teratur, jangan banyak merokok!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar