Rabu, 10 Oktober 2018

Rumit

Mungkin iya teman lebih berharga dari apapun. Engkau bisa melewati hari bersama mereka tanpa harus basa-basi dan jaim-jaim. Teman yang sesungguhnya adalah dia yang tau apapun keburukan yang kita punya, tak merasa keberatan, dan selalu menerima. 

Tapi ternyata tak semua orang-orang bisa seperti itu berharap kepada teman mereka. Mereka seakan yang paling tahu bagaiman sikap dari teman-teman yang mereka punya, tapi setelah mereka mengacaukan harimu atau hanya mengacaukan mood-mu, mereka langsung saja berubah dan banyak kesalah pahaman yang terjadi. 

Apa sebenarnya kita telah sepenuhnya tahu bagaimana sikap seseorang terdekat kita? Apa harus kita terpecah belah jika ada yang kita tak sukai dari mereka? Pohonpun tak keberatan jika angin menjatuhkan daun-daunnya berkali-kali. Kau merasa paling sempurna dengan pertemananmu, tapi sedikit saja digoyahkan lalu berubah menjadi kepingan logam tak menyatu. 

Jika kau ingin berteman dengan seseorang janganlah kau mengekang mereka agar terus bersama selalu denganmu dan merasa cemburu buta hanya karna dia dekat dengan seseorang yang lain. Lepaskan mereka, mereka bukan budakmu bukan pula kekasihmu. Silakan saja mereka berteman dengan siapapun, tak hanya dengan kau. Dengan begitu, kaupun akan mengenali siapa temannya yang lain, yang akan menambah temanmu juga, bukan, nantinya?

Kali ini aku tak percaya bahwa aku akan ada di vase ini. Vase yang benar-benar rumit yang menyangkut beberapa temanku. Kau tahu, selama ini aku tak ingin merepotkan teman-temanku. Kalian tak lebih dari sebatas teman saja, bukan keluarga. Kau mengakui bahwa pertemanan ini telah seperti keluarga baru bagimu. Tapi bagiku tidak, kita masih mempunyai batasan. Kau tak boleh menerobos masuk begitu saja. 

Beberapa minggu terakhir ini aku menyadari satu hal, bahwa aku tak bisa terus bergantung kepada orang lain, walaupun mereka dekat denganku. Candaan mereka bahkan pula tangis isak mereka aku sudah mengenalnya. Tapi bukan sebagai acuan jikalau aku harus terus menghubungi mereka, meminta pertolongan yang akupun sendiri bisa memikulnya. Aku, hanya butuh waktu yang mungkin beberapa minggu ini menjadi minggu atau menjadi bulan-bulan tersulit. Tak perlu kau tampar, aku sudah sadar.

Jika ada yang bilang sekarang aku menjadi tertutup, kau salah besar.
Jika aku ingin menutupi kesedihanku dengan mengembangkan senyum dan tawa, apa aku salah?
Jika kau melihat aku terpuruk lalu aku bunuh diri, itu baru, kau bisa mnyelahkanku.
Jujur, kau kemana saja saat aku dalam keadaan kesedihan yang mendalam? Kau dari mana saja tak menengok keadaanku ini yang kau bilang sendiri "Aku Peduli Padamu".

Mungkin masih, sudah terlalu nyaman seperti ini. Akan aku pupuk kembali emosiku, energi positifku, dan keceriaanku yang sangat kau suka. Tapi tak perlu dengan banyak orang, itu malah membuatku pusing. Bahkan sekarang, mereka akan mengobrol dengan topik masing-masing, tak membaur. Dengan hanya beberapa teman atau bahkan sendiripun lebih nyaman. Kau rasakan saja sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sekarang, Sendiri.

" Aku terlahir kedunia ini bukan aku yang menginginkannya. Tapi karena takdir yang telah Allah tuliskan agar Tuhanku bisa melihat seb...