Selasa, 25 September 2018

Apa Kau Merasakan? (2)


Rasa jengkelku berubah seketika. Senyum-senyum penuh harap akan datang lagi percakapan yang aku sukai. Dari gaya bicaranya, selera humornya, dan juga emoticon yang selalu ada disetiap pesan yang dikirimkan. Sangat hangat.

Beberapa pesan masuk, tapi, entah mengapa hatiku merasakan ada yang tidak beres. Tiba-tiba seperti akan dihadapkan pada sesuatu yang belum pernah aku rasakan. Dari pesan yang dikirimkan, aku tak melihat hangatnya itu. Aku tak merasakan bahwa dia sedang senang, apalagi rindu, jauh dari tu. 
Dia seolah-olah ingin mengatakan sesuatu yang penting, yang belum pernah aku dengar. Tentu saja, dia memanggil namaku, mengirimkan pesan seolah sedang memanggilku, “Ciko” seperti ucapan lirih darinya. Jantungku mulai saja berdegup kencang, tak karuan, was-was.

Dia memulai perbincangannya, harapanku pupus. Percakapan yang akau inginkan tak muncul, emoticon yang aku tunggu tak kunjung kulihat. Yang ada hanyalah obrolah serius. Aku tak mengerti apa yang dia bicarakan, lebih tepatnya aku tak mau mengerti. Apa yang dia bicarakan? Bukan sebuah komitmen, bukan masalah kebahagiaan, bukan pula kata-kata rindu yang ingin sekali aku dengar. Melainkan sebaliknya, haru, aku diam membisu, tak tahu aku ini sedang membaca pesan siapa? Dia memintaku untuk selesai.

Dia menjelaskan banyak. Kata-katanya seolah tak habis-habis untuk membuatku mengerti. Mau berapa kalipun kau minta dijelaskan, dia setuju, sampai berbusa pun dia mampu hanya demi membuat aku mengerti. 
Banyak sekali yang aku benci dari pikirannya saat itu. Yang seperti ini kita sudah pernah mengalami, ditahun 2016 dia sama seperti itu, hanya karena kesalahan bodohku dia memutuskan untuk menyelesaikan hubungan ini. Aku membujuknya untuk tidak melakukan itu, sampai aku temui dia, kembali dia membuatku mengerti kenapa dia harus melakukan itu, dengan hati yang keras kepala, lalu selanjutnya hanya akulah yang harus mengikhlaskan. Aku mengadu ke beberapa temanku, mereka berkata "Semua akan baik-baik saja", tapi bagiku, untuk berpisah darinya bukan perkara yang mudah. Dia menjelaskan bahwa dia tidak akan pergi kemana-mana, dia akan terus dekat denganku, menjadi temannya bukan menjadi kekasihnya. Dia terus saja meyakinkanku bahwa kita tidak mungkin berpisah, kita masih dalam satu lingkup pertemanan yang sama, masih dalam satu organisasi yang sama. Dia berkata lirih. Aku hanya bisa menangis saja berusaha menenangkan diri dan meyakinkan hati bahwa dia masih untukku dan semua akan baik-baik saja.

Ternyata perkataannya benar, kita masih sering bertemu, bersama, tertawa, bahkan masih sering bertukar kabar dan pesan. Aku senang tidak ada yang berubah darinya. Selang 3 bulan berlalu menjalani hubungan yang tidak berstatus, aku bingung. Jujur, untuk berkomunikasi dengan laki-laki lain saat itu aku jalani, mengobrol lewat aplikasi messenger pernah aku lakukan walaupun hatiku masih terpaut dengan hatinya. Hatiku bersikeras untuk tetap bersamanya. Dia pun memperlakukanku saat itu dengan baik. Kita layaknya pasangan kebanyakan, dengan status pacaran didalamnya, tapi tepatnya tak ada status saat itu. Dia terasa masih saja perhatian didalam 3 bulan itu, masih sangat peduli seperti aku ini benar-benar kekasihnya. Tapi hatiku bimbang, seperti di gantung. Aku tak nyaman menjalani hubungan seperti ini dengan seseorang. Aku ingin kejelasan.

Akhirnya setelah aku bujuk dia menyetujui untuk kita berstatus lagi. Dengan seperti ini aku bisa lebih fokus kepada laki-laki mana yang benar-benar sedang menjalin hubungan denganku.
Sampai saat itu, 2 tahun setelah itu hubungan kita masih berjalan dengan baik. Tak ada masalah yang besar, tak ada perdebatan yang hebat, tiba-tiba dia berkata lagi bahwa kita harus selesai. Aku mencoba menanyakan mengapa harus seperti ini? Apa mungkin kau sudah tak sayang lagi? Apa mungkin aku begitu membosankan untukmu? Tolong, aku tak mau seperti ini, tak mau.
Sebuah rangkaian kalimat di dapatnya dari sebuah buku. Dia berkata bahwa kata-kata itu menginspirasinya. "Bahwa cinta dan karir adalah kedua hal yang tidak bisa berjalan beriringan, walaupun keduanya sama-sama menpunyai peran yang penting, kau harus merelakan salah satu".
Dia mulai berpikir, kenapa pekerjaannya tidak berkembang? Kenapa dia harus terus bekerja diperusahaan yang sama sampai beberapa tahun? Dan dia mulai mengaitkan itu semua dengan urusah ibadahnya. Urusan ketuhanannya.

Mungkin benar, Allah masih sangat sayang kepadanya, dia masih diberi banyak rizki untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tapi bagi seorang laki-laki, gajih yang dia dapatkan saat ini sangatlah kurang. Belum untuk menabung, dan segala macamnya walaupun Allah masih dengan tulus memberi dia rizki, pekerjaan yang layak untuknya. Tapi, itu semua belumlah cukup. Tak berkembang. Dan dia kembali berpikir mengapa seperti itu?



Minggu, 23 September 2018

Apa kau merasakan?

Maaf, sekali lagi aku meminta maaf.
Sudah jarang untuk sempat mengunjungi laman ini. sepertinya setahun sekali aku bisa mampir, seperti orang-orang sibuk yang pulang ke halaman rumahnya. Tragis. Padahal banyak sekali yang ingin aku ceritakan. Sekarang, entah gaya tulisanku sudah berubah atau belum, atau masih se-lebay dulu. Hahaha tak apa-lah..

Pagi ini aku terbangun dari nyenyaknya tidurku. Entah aku selelah apa semalam, yang aku ingat hanya senangnya menikmati sore bersama dengan kawan-kawanku. Tak ada kau. Tak ada kau sang kekasih hati. Lamat-lamat aku mendengar suara seorang ibu yang dengan berani membangunkan anaknya ini. Dia terkaget-kaget melihatku tidur disusul dengan omelannya dipagi hari. Ibuku mengintropeksi sang anak saat keadaan anaknya penuh dengan kebingungan, kenapa pagi kau cepat sekali datang? Dia tidak henti berbicara. "Astagfirullah... kamu mah kalau udah tidur teh susah bangun. Ini jendela lupa kau tutup juga! Trus pasti kau lupa sholat Isya kan?" aku tak mengiyakan, hanya tersipu melihat kearah wajah ibuku dan seketika melihat lagi jendela yang benar-benar terbuka. "Ayo bangun, cepat sholat subuh! Sudah siang". Perintah ibu. Tak aku iyakan karena kepala sudah bingung sedari tadi, aku langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

Aku tak tahu menahu kenapa keadaan badanku kali ini membuatku begitu pulas sekali tertidur. Apa aku melakukan perjalanan yang jauh? Atau mungkin aku melakukan aktifitas yang lebih dari biasanya? Aku berpikir, tapi setelah diingat-ingat, ah, mana mungkin? Seharian kemarin aku hanya berjalan-jalan santai di pasar minggu, lalu menunggu teman dekatku datang selama berjam-jam menunggu aku hanya bisa duduk terdiam, mendownload banyak lagu di kost-an temanku yang ada koneksi internetnya, setelah itu datang temanku, dan kita jalan mengelilingi mall, melihat-lihat harga tenda yang memang itu tujuan utama, survey harga. Setelah itu, sudah, tak ada lagi kegiatan. Lalu apa penyeban badanku ini menjadi lemas sekali pagi ini? Entalah.

Seperti biasa, setelahnya aku langsung membasu badanku. Entah mengapa air dalam bak mandi terasa seperti air es. Dinginnya terasa sekali, aku mengguyur langsung tak ingin berlama-lama. Dan kembali kerutinas keseharianku, disekolah.
Kau tau apa yang ingin aku segera cepat sampai ke tempat kerjaku? Ya, tak lain adalah aku mengajari anak-anak di TK ku membaca dan mengaji. Senang sekali rasanya melihat anak-anak dengan semangat mengantri untuk mengaji kepadaku. Ya, walaupun ada juga yang patah-patah dalam mengeluarkan suaranya, terkadang aku geram sendiri. Sabar.

Setelah selesai aku kembali menuju meja tempatku bekerja. Nyaman, cukup nyaman. Entah apa yang membuatku lelah hari ini. Apa aku terlalu banyak tertidur semalam? Atau kenapa? Semangatku tak seperti biasanya. Aku sempat melamun jua.
Tiba-tiba datang temanku duduk disebelahku. Aku tak terlalu memperhatikannya. Aku lupa apa yang dia katakan sebelumnya kepadaku. Setelah beberapa detik berlalu, aku masih dalam keadaan melamun dan temanku tentu saja membangunkanku. Aku kerap disapa "Neng" olehnya, dan aku lebih senang dengan memanggilnya "Ibu" karena kita bekerja di sekolahan yang mungkin tak aneh juga memanggil "Ibu/Bapak" ke sesama rekan kerjannya disekolah.
Aku merasa ada yang melihatku. Ah aku tak peduli, sangat malas untuk menoleh. Icon komputer di depanku malah terlihat lebih menarik. "Neng! Kenapa melamun gitu" oh, si ibu yang memperhatikanku, mengajakku bangun dari lamunan. "Eh, engga bu". Aku bingung harus menjawab apa, karena akupun tidak tahu apa yang aku lamunkan dan aku pikirkan. Kita terdiam. Aku yang sedari tadi mengucek mataku lalu menjawab, "Ini.. Kok ngantuk gini yaa? Padahal tadi malem tidurnya nyenyak banget, apa kelamaan tidur gitu yaa, Bu?" Alasanku meyakinkan.
Si ibu teruslah menatapku lalu berkata.
"Neng mah, gak pernah kelihatan sedih ya?" Aku takzim mendengarnya, terdiam. "Kayaknya gak pernah nangis gara-gara cinta, ya? Kan, yang banyak saya lihat, anak SMA sekarang kebanyakan galau dan sampai nangis gara-gara cinta" Si ibu melanjutkan.
Aku yang tak bisa menjawab pertanyaannya itu hanya bisa melanjutkan diam lalu tersenyum seadanya.

Kau tahu apa yang sudah aku lalui beberapa minggu kebelakang?
Apa yang telah aku jalani saat ini, apa yang membuat aku bisa sekuat ini, dan orang-orang beranggapan akan aku yang baik-baik saja. Apa kau merasakan juga ini? Sedih. Aku bingung, berusaha kuat, berusaha melupakan, dan yang penting aku berusaha bahagia sebisa mungkin. Mungkin iya, aku berhasil di muka umum, dihadapan teman-temanku, keluargaku, dan dihadapan orang-orang yang aku temui. Tapi kau tahu, apa yang aku rasakan? Apa kau merasakannya juga?

Yaa Tuhan, semua ini sungguh berat sekali. Entah aku harus merasakan bahagia atau sedih. Entah aku harus merasakan bangga atau kecewa. Aku tak tahu. Berat hati menjalani ini semua. Langkahku menjadi sangat berat. Kepalaku sering sekali terdunduk. Pikiranku tak bisa berkompromi. Semua hal yang aku pikirkan, semua tertuju padamu. Dan yang lebih menyedihkan, darimana air mata sederas itu muncul? Bagaimana bisa air itu tak pernah surut? Padahal air itu terus saja mengganggu pipiku. Beberapa kali harus kuhabiskan persediaan tissueku. Aku takut pipiku hilang karna terbawa air mata itu. Ah, sial.

Aku tak menyangka bahwa akan secepat ini, akan setiba-tiba ini. Tuhan memang pandai sekali membolak-balikkan hati hambaNya. Dengan sekejap saja dia mampu untuk berbicara seperti itu, dengan intonasi yang penuh keyakinan akan merasa benar dan menganggap bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kau akan terbiasa, ucapnya.

Kau tahu awal bulan Agustus kemarin, aku yang memutuskan untuk pergi kemping dengannya, awalnya aku senang bisa kemping lagi dengan teman-teman kampusku, bersamanya juga, tak ada yang lebih istimewa dibandingkan dengan kita bisa bersama bermalam dengan orang-orang yang kita sayangi. Tapi ternyata itu tak bisa diwujudkan. Teman-temanku mendadak mengabari bahwa mereka tak bisa ikut. Kecewa? Benar-benar aku kecewa. Aku sudah menata semuanya, bahkan lagi telah ku pikirkan serunya ditengah malam ber-api unggun menemani obrolan kita. Bayangkan saja, di alam lepas tertawa dengan kawan-kawanku. Ya, sudahlah, mungkin lain waktu, pikirku. Tetapi tak ku sangka doi tetap melanjutkan rencana ini. Jadilah aku pergi kemping saat itu. Senang, gembira sekali rasanya.

Tak usah kuceritakan bagaimana kempingnya. Kau juga tahu sendiri, aku paling bersemangat akan itu. Aku tak ingin menciptakan kesan buruk didalamnya. Dan yang pasti malam itu benar-benar indah dengan keadaan lagit yang cerah dan ditambah dengan obrolan manis berselimutkan asap dari api unggun.

Selang dari itu semua, kita kembali dalam rutinitas kita masing-masing. Saling berjauhan, yang terdekat kala itu hanyalah kabar dari sebuah aplikasi messenger. Aku tak ingin menambah kacau harinya. Kala itu, tak berani untukku memaksanya selalu memberi kabar kepadaku, apalagi ditengah kesibukannya, aku memaklumi. Lagipula, aku sudah cukup puas dengan malam itu. Mungkin ini saatnya dia membagi waktunya dengan yang lain. Tak kuasa aku mengganggunya.
Beberapa hari setelah kemping itu, kau tahu, notifikasi di handphone ku pertanda ada pesan yang masuk darinya itu setelah larut malam, oh, mungkin dia sedang banyak-banyaknya perkerjaan, ditambah dengan les Bahasa Inggrisnya juga. Tak mengapa, aku akan menunggu.

Beberapa hari, pesan darinya pun datang saat hari sudah larut. Aku senang, ditambah aku jengkel. Dia mengabariku saat dirinya sudah merasa ngantuk. Tak bisa aku melarangnya untuk tidak tidur, dalam batin ingin sekali aku berkata, "Ayolah, aku masih rindu, kau jangan tidur dulu. Menunggu esok hari akan terasa sangat lama bagiku". Tapi sia-sia. Aku tak bisa mencegahnya. Dia segera pamit.

Seminggu pertama aku bersabar, terkadang rindu tak mau berkompromi, dia masih sama seperti itu.
Dua minggu berlalu. Jengkel sekali rasanya. Seperti dilupakan saja. Kau kemana? Sungguh kau menjengkelkan, tapi, ya, ampun, aku sangat merindukanmu. Kali ini, aku tak menyangka, rasa jengkelku memenagkan semuanya. Rinduku takluk. Hatiku hilang kendali, bertengkar dengan pikiranku yang semraut. Kau tahu hal bodoh apa yang aku lakukan kala itu?
Aku memutuskan untuk tidak lagi mengirimu pesan singkat. Untuk tidak lagi mengabarimu barang sehari dua. Ya, mungkin saja aku bisa sepertimu, cuek dengan segalanya. Bisa bertahan mungkin untuk beberapa minggu. Berpikiran kamu sedang bosan dengan aku. Tak apalah. Batin ini selalu saja meracau, berharap penuh bahwa kau akan mencariku, mencari keberadaanku, bertanya-tanya kenapa tidak notifikasi pesan dariku. Lalu dengan sigap kau mulai memulai obrolan baru, setelah itu kita berbincang melalui video call di tengah malam hingga suntuk. Merasakan betapa rindunya kau padaku.

Tapi aku salah, beberapa kali kulihat handphone, tak kudapati itu. Aku mulai kecewa. Rinduku semakin mengebu-gebu. Ternyata aku tak bisa menahan. Rinduku kini yang menang. Dia gagah berani untuk segera mengirimkan pesan singkatnya. "Hai", adalah kalimat pertama saat itu. Tak butuh waktu lama, dia membalas. Demi apapun aku senang. 

Sekarang, Sendiri.

" Aku terlahir kedunia ini bukan aku yang menginginkannya. Tapi karena takdir yang telah Allah tuliskan agar Tuhanku bisa melihat seb...