Senin, 22 Oktober 2018

Sekarang, Sendiri.

"Aku terlahir kedunia ini bukan aku yang menginginkannya. Tapi karena takdir yang telah Allah tuliskan agar Tuhanku bisa melihat sebagaimana imanku selama aku hidup. Menjadi anak perempuan yang cantik, sholehah dan menjadi kebanggaan kedua orang tua. Itu yang orang-orang harapkan kepadaku. Tak apa, akan mudah menjalani ini semua, toh, aku dicintai, aku dikelilingi orang-orang yang sayang kepadaku."
Itu pikiran sederhanaku kala aku kecil.

Aku mulai tumbuh dan berkembang. Entah tumbuh menjadi yang lebih dewasa atau tidak. Entah berkembang menjadi seseorang yang baik atau tidak. Aku tak tahu. Akupun tak bisa menilai diriku sendiri. Terlalu sulit untuk mengerti akan diriku, apa saja yang aku mau. Bagaimana harus ku jalani semua ini?

Sekarang, Sendiri
Menyepi menyambut sepi
Terlelah dengan dunia fana ini
Aku ingin aku
Aku yang dahulu
Yang tak melulu memikirkan kau atau nasibku
Yang senang berlari dan berteriak sekeras yang kubisa
Mengubah tangisan menjadi tawa yang memecahkan lamunan 
Mengubah apapun seperti yang ku mau dalam bentuk mainanku.

Sampai akhirnya aku berada dititik ini. Merasakan menjadi dewasa yang aku sendiripun tak tau caranya menjadi dewasa. Harus seperti apa menjadi dewasa itu?
Diri terbawa riaknya angin, berhembus halus ciptakan sejuk. Aku ingin pergi. Sekarang juga. Bersamaan dengan angin itu, bawalah aku hilang..

***

Apa semua yang membaca tulisan ini sedang paham keadaanku? Apa kalian pernah sama sepertiku?
Beberapa minggu ini ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku. Aku yang tak tahu harus berbuat apa hanya berusaha sebisa mungkin tetap tersenyum dan ikhlas menghadapinya. 
Allhamdulillah sampai detik ini aku masih bisa merasakan dunia pekerjaan. Berkutan dengan orang-orang berpendidikan dalam bidangnya. Berinteraksi setiap hari dengan mereka. Memmbahas apapun yang mereka suka. Aku siap mendengarkan. 

Pekerjaanku terbilang sangat mudah. Aku bekerja dalam bidang pendidikan formal pada sebuah Taman Kanak-kanak. Disanalah aku bekerja. Kalian pasti mengganggap aku hebat sekali bisa mengajari anak usia dini disekolah. Tapi prasangka kalian salah, aku hanya mendapat tugas dalam bidang Administrasi di sekolah itu. Bukan hal yang patut dibanggakan. 

Terbilang cukup lama aku bekerja disana. Entah apa yang membuatku terus saja berkutat pada satu tempat yang sama. Mungkin selain di TK, iya, aku juga mengajar. Lebih tepatnya mengajar mengaji. Kau tak percaya? Aku pun. Aku bukan ustadzah sholehah yang di tugaskan untuk mengajar mengaji disana. Dan aku pun masih bingung mengapa aku menerima tawaran itu. Menerima tanggung jawab yang besar untuk menjadi pengajar yang mendidik anak-anaknya untuk menjadi sholeh. Sedangkan aku pun belum bisa sebaik itu.

Tapi lambat laun aku mulai menikmatinya. Terlebih aku menikmati saat aku berinteraksi dengan murid-muridku. Mungkin disini yang belajar banyak itu adalah aku sendiri. Dari mereka aku mengetahui banyak hal. Dari mereka pula banyak pelajaran yang aku ambil. Mereka teristimewa sampai saat ini. Aku terlanjur suka pada tingkah laku mereka yang kian hari makin saja menggemaskan dan membuatku bangga. Sampai pada tahap aku tak mau untuk kehilangan murid-muridku. Ya, walaupun aku dan muridku ada dalam satu lingkup yang dekat, untuk tidak bisa mengajari mereka seperti kerugian yang sangat besar untukku. Pahala mungkin akan terus mengalir selama aku ikhlas, dan mereka sudah menjadi bagian dari hidupku sendiri.

Kian murid silih datang dan berganti-ganti. Ada yang rajin ada pula yang moody saat belajar. Tak apa, mungkin mereka pada masanya. Ada anak laki-laki ada juga anak perempuan, mereka saling bersautan jika sedang dikelas, membuat gaduh, tapi tak menyurutkan semangatku untuk bisa tetap mengajari mereka. Kadang aku yang malu sendiri menjadi guru yang tidak bisa profesional, tidak siap mengajar, tidak ada perencamaan. Materi yang ku berikan tak beraturan. Tapi lagi-lagi mereka menikmati suasa kelas bersamaku.

Tapi beberapa waktu ini, kabar yang sepertinya buruk menimpaku. Aku tak mengerti, sebaiknya aku paham, tapi ini terlalu mengganggu. Aku mempunyai teman, ya, bisa dianggap umurnya sudah menuju untuk tahap ibu-ibu dia mempunyai anak satu yang dekat sekali denganku. Aku berteman baik dengannya. Lebih tepatnya, aku lebih menghargai dia, karna umur kita yang terpaut jauh mengharuskanku lebih sopan kepadanya.

Dia bisa  dibilang kepercayaan pengurus yayasan. Aku akui sikap jujurnya menyebabkan dia disukai banyak orang. Tapi aku akui juga sikapnya yang selalu menggunjing seseorang membuatku sangat risih. Selain aku takut jadi korbannya, aku pun tak suka mendengarnya. Mulutnya membuat banyak orang sakit hati, orang-orang tak mau berdebat dengannya karna dia tak mau disalahkan. Juga, menurutku sikap ini tak pantas dia lakukan, mengenal dia orang yang mahfum dalam agama, tahu hadist-hadist dan aturan dalam agamanya. Tapi untuk mulutnya tak pernah dia kontrol. Ya mungkin tidak ke banyak orang, tetapi sama saja, yang namanya menggunjing seseorang itu adalah berdosa.

Dia yang menyampaikan "kabar buruk" itu. Apa kau tahu isi pesannya? Katanya seperti ini.. "Untuk pengajar ngaji sore, beberapa bulan kedepan saat santri sudah kembali kesini maka pengajar sore akan diberhentikan dan digantikan oleh santri.". Awalnya aku tak masalah dengan itu, awalnyaaaa... Dia pun memegang kelas ngaji sore dengan usia paud. Dan mendengar kabar seperti itu dia pun bingung harus bagaimana. Dia harus berhenti juga dan mencari rumah lagi karna selama ini dia tinggal di kontrakan yang disediakan oleh yayasanku. Jika dia berhenti untuk mengajar, maka dia harus mencari tempat tinggal baru.

Beberapa minggu mendengar itu aku masih tenang saja. Pikirku, mana mungkin pengajar ngaji diganti semua menjadi laki-laki, akan tidak kondusif mengatur anak-anak yang notaben masih usia dini , santri pun masih muda dan tidak ada pengalaman mengajari anak usia paud. Mungkin kepala yayasan akan berpikir ulang untuk itu. Tapi untuk sekali lagi, temanku itu yang membawa kabar. Dia mulai berbicara, "Untuk yang diganti gurunya adalah yang pegang kelas tinggi, untuk usia paud masih sama ustadzah yang mengajar". Aku langsung menarik kesimpulan. Dia tidak akan diganti, dan hanya aku yang akan digantikan karna aku yang memegang kelas tinggi (Anak-anak kelas SD). Dan saat ku lihat dia berkata seperti itu, tak ada lagi raut wajah cemasnya. Tak ada sepatah katapun yang terucap dariku. Aku pun malas untuk berbincang atau menanyakan sesuatu kepadanya. Rasanya ada hati yang dipatahkan lagi semangatnya.

Aku berpikir, oh, ya, tidak apa mungkin bukan rezeki lagi. Mungkin Allah sedang mempersiapkan yang lebih manis untukku. Jujur, dari penghasilan selama mengajar mengaji di Yayasan itu sangat membantu keuanganku. Dan karna aku belum sepenuhnya percaya pada apa yang telah ditakdirkan untukku. Mungkin ini jawabannya. Aku kurang bersyukur. Aku merasa selain pekerjaanku, akan ada anak muridku juga yang akan diambil alih oleh orang lain. Murid-murid yang sangat aku sayangi dan aku banggakan. Kini harus aku rela melepasnya demi bisa belajar dengan pengajar yang lebih mampu.

Aku yang bingung harus bagaimana menghadapi kedua orang tuaku. Mereka takkan membiarkanku terpuruk, aku percaya itu. Tapi ini aku, yang tak bisa membahagiakan mereka, tak bisa mengasihi apa yang mereka mau, tak bisa membuat mereka bangga. Mereka takkan menuntu. Iya betul, tidak menuntuk sepeserpun. Tapi malukah kau, jika sudah bekerja bertahun-tahun tetapi tidak mendapatkan hasil apa-apa. Aku terlalu boros. Maafkan aku Ya Allah, aku begitu serakah.

***

Apa hanya aku saja yang merasa bahwa aku tak dibutuhkan? Aku yang merasa bahwa orang-orang tidak ada yang percaya kepadaku. Dan akulah yang mungkin tidak berguna lagi saaat ini. Aku merasa tak punya lagi harapan. Aku tak tahu apa lagi yang akan aku lakukan selanjutnya. AKU HARUS BERLAPANG DADA menerima takdirku dan jalan hidupku sekarang. Aku merasa 'stuck' pada tempatku berpijak sekarang. Aku harus belajar ikhlas dan lebih bersyukur atas apa saja yang aku hasilkan. Aku ingin pergi jauh dari orang-orang terdekatku, memulai hidup dengan suasana yang baru untuk membuktikan bahwa akupun mampu. Aku ingin menghilang, agar semua orang tak mengganggap remeh diri ini. Aku akan berubah!

Rabu, 10 Oktober 2018

Rumit

Mungkin iya teman lebih berharga dari apapun. Engkau bisa melewati hari bersama mereka tanpa harus basa-basi dan jaim-jaim. Teman yang sesungguhnya adalah dia yang tau apapun keburukan yang kita punya, tak merasa keberatan, dan selalu menerima. 

Tapi ternyata tak semua orang-orang bisa seperti itu berharap kepada teman mereka. Mereka seakan yang paling tahu bagaiman sikap dari teman-teman yang mereka punya, tapi setelah mereka mengacaukan harimu atau hanya mengacaukan mood-mu, mereka langsung saja berubah dan banyak kesalah pahaman yang terjadi. 

Apa sebenarnya kita telah sepenuhnya tahu bagaimana sikap seseorang terdekat kita? Apa harus kita terpecah belah jika ada yang kita tak sukai dari mereka? Pohonpun tak keberatan jika angin menjatuhkan daun-daunnya berkali-kali. Kau merasa paling sempurna dengan pertemananmu, tapi sedikit saja digoyahkan lalu berubah menjadi kepingan logam tak menyatu. 

Jika kau ingin berteman dengan seseorang janganlah kau mengekang mereka agar terus bersama selalu denganmu dan merasa cemburu buta hanya karna dia dekat dengan seseorang yang lain. Lepaskan mereka, mereka bukan budakmu bukan pula kekasihmu. Silakan saja mereka berteman dengan siapapun, tak hanya dengan kau. Dengan begitu, kaupun akan mengenali siapa temannya yang lain, yang akan menambah temanmu juga, bukan, nantinya?

Kali ini aku tak percaya bahwa aku akan ada di vase ini. Vase yang benar-benar rumit yang menyangkut beberapa temanku. Kau tahu, selama ini aku tak ingin merepotkan teman-temanku. Kalian tak lebih dari sebatas teman saja, bukan keluarga. Kau mengakui bahwa pertemanan ini telah seperti keluarga baru bagimu. Tapi bagiku tidak, kita masih mempunyai batasan. Kau tak boleh menerobos masuk begitu saja. 

Beberapa minggu terakhir ini aku menyadari satu hal, bahwa aku tak bisa terus bergantung kepada orang lain, walaupun mereka dekat denganku. Candaan mereka bahkan pula tangis isak mereka aku sudah mengenalnya. Tapi bukan sebagai acuan jikalau aku harus terus menghubungi mereka, meminta pertolongan yang akupun sendiri bisa memikulnya. Aku, hanya butuh waktu yang mungkin beberapa minggu ini menjadi minggu atau menjadi bulan-bulan tersulit. Tak perlu kau tampar, aku sudah sadar.

Jika ada yang bilang sekarang aku menjadi tertutup, kau salah besar.
Jika aku ingin menutupi kesedihanku dengan mengembangkan senyum dan tawa, apa aku salah?
Jika kau melihat aku terpuruk lalu aku bunuh diri, itu baru, kau bisa mnyelahkanku.
Jujur, kau kemana saja saat aku dalam keadaan kesedihan yang mendalam? Kau dari mana saja tak menengok keadaanku ini yang kau bilang sendiri "Aku Peduli Padamu".

Mungkin masih, sudah terlalu nyaman seperti ini. Akan aku pupuk kembali emosiku, energi positifku, dan keceriaanku yang sangat kau suka. Tapi tak perlu dengan banyak orang, itu malah membuatku pusing. Bahkan sekarang, mereka akan mengobrol dengan topik masing-masing, tak membaur. Dengan hanya beberapa teman atau bahkan sendiripun lebih nyaman. Kau rasakan saja sendiri.


Senin, 08 Oktober 2018

H I L A N G

Hilang.. Semuanya hilang. Ya, menghilang.
Aku yang membuat mereka hilang..
Teruntuk teman dekatku, kau benar, aku egois.

Aku tak yakin pertemanan kita akan berlanjut atau sampai disini saja. Melihat kau begitu kecewa kepadaku. Hari ini, aku baru merasakan kasih sayang tulus sahabatku. Maafkan aku yang bisa membuatmu seperti ini. Aku tak bisa membanggakan engkau. Terimakasih atas hari ini. Hari yang mengharuskanmu bawel kepadaku yang keras kepala.

Aku sengaja mematikan handphone-ku, aku tak kuasa melihat semua isi pesanmu yang betul betul sangat marah, mungkin, atas tindakanku belakangan ini. Temanku, aku seperti kehilangan lagi sosok-sosok yang sangat aku sayangi. Tuhan, cukup. Maafkan aku. Aku tak bisa setegar itu. Apa aku harus menyerah? Semuanya hilang, kunci semangatku telah hilang entah kemana. Gara-gara tak ku simpan dengan baik. 

Aku memang tak ingin kau tau atas semua kerapuhanku. Seharusnya aku tak memberi tahu. Seharusnya aku diam saja seperti sebelum-sebelumnya. Dengan tawa seikhlas mungkin yang aku buat. Seperti itu saja seharusnya, yang lainnya tak perlu. Kau, ah sudahlah, aku hampir putus asa. Tak tahu caranya untuk membujuk. Kali ini mungkin memang aku yang salah. Aku yang tak bisa sekuat dan sebahagia dirimu.

Temanku. Aku masih ingin menjadi yang terdekat untuk kamu. Yang bisa terus bercerita sampai larut malam dan berganti hari. Yang sangat antusias bila diajak bermain kemanapun itu kamu menyanggupi. Aku masih ingin menemuimu di hari ulang tahunmu. Apa kau masih mau menganggapku yang super egois ini menjadi temanmu? Teman dekatmu? 

Aku hilang arah. Semua sudah coba aku lakukan, akan aku buktikan bahwa aku bisa, dengan caraku sendiri. Melupakan yang tak seharusnya aku simpan terus dalam memori otakku. Rasanya penat. Kau seakan seperti orang tuaku yang menasehati anaknya dengan sangat. Berharap bahwa anaknya itu tak salah arah, tak hilang tujuan. Itu sekarang yang aku lihat darimu. Seperti itulah caramu tadi menunjukkan betapa pedulinya kamu dengan temanmu yang bodoh ini, terlalu dibutakan. Tangisku semakin menjadi-jadi. Jangan sampai aku mengantuk malam ini, sungguh, aku tak ingin ini masuk dalam mimpiku menjadi cerita yang buruk. Aku ingin terjaga.

Kawanku, dengar. Dia bukan malaikat, dia juga bukan seorang pangeran, dia bukan satu-satunya. Tapi sangat membigungkan. Hati dan otakku bekerja sama terus saja memutar memori bersamanya. Terus, tanpa henti, setiap detik. Kau pun tau kawanku, aku tak bisa lepas dengan mudah darinya. Aku selalu berusaha, pasti. Ku belikan semua uang saku ku untuk membeli buku dengan niat aku bisa berhadapan terus dengan alur cerita yang ku baca lalu setelahnya aku bisa melupakannya. Tapi sama saja, tak berhasil. Begitupun dengan aktifitas yang lain. 

Sungguh, aku ini lemah. 2 tahun yang lalupun sama seperti ini, waktu dia ingin menyudahi, aku menelfonmu dan menangis dari ujung telfon itu. Pagi-pagi buta kau harus mendengar aku menagisinya, dan kau memberiku semangat untuk terus meneruskan hidupku saat itu. Dan sekarangpun sama, tapi bedanya, kali ini aku tak berani menagis dihadapanmu. Aku malu, aku tak bisa mengendalikan diriku. Biarkan kau anggap bahwa aku ini baik-baik saja. Aku tak perlu merepotkanmu dengan harus bercerita tentang seorang laki-laki yang sama.

Aku akui, selama ini aku tak tahu harus berbuat apa. Merenung, sendirian, menata lagi hati yang aku rasa cukup sulit, lalu berpikir apa yang akan aku lakukan setelah ini. Maafkan aku, aku seegois ini. Aku sungguh-sungguh tak menyangka bahwa akhirnya ada tangis juga yang pecah gara-gara aku. Aku tak memikirkan orang lain. Jika kau mulai muak denganku, baiklah aku akan terima itu. Maksudnya mencoba menerima, karna sesunguhnya kehilangan orang yang aku sayang untuk kedua kalinya aku tak yakin akan menjadi seperti apa hidupku. Aku, Kau, dan Dia, kita semua bertemu dalam tahun yang sama. Aku anggap kalianlah yang sangat mengenal aku. 

Biarkan aku sendiri dulu merasakan ini, terpuruk seperti ini. Akan ku dekatkan kembali diriku dengan Sang Pemilik Hati, dan keluarga kecilku yang aku banyak kehilangan waktu bersama mereka. Teruntuk teman-temanku yang lain, maafkan aku sekali lagi, maaf. Bukan aku yang so kuat. Kalian pasti teristimewa, hatiku saja yang keras kepala, membatu. Hukum saja aku, dengan perasaan bodoh seperti ini.

Dan untuk Sahabatku--kawanku--teman dekatku, aku berharap kamu bersedia menerima maafku, tak perlu kau harus sebaik itu lagi kepadaku, itu sudah cukup, lebih dari cukup, aku tak mau merepotkanmu lagi. Aku tak ingin pikiranmu lelah hanya memikirkan persoalan tentangku, biarkan saja. Obatmu lebih banyak dari yang kubayangkan, minumlah dengan teratur, jangan banyak merokok!

Selasa, 25 September 2018

Apa Kau Merasakan? (2)


Rasa jengkelku berubah seketika. Senyum-senyum penuh harap akan datang lagi percakapan yang aku sukai. Dari gaya bicaranya, selera humornya, dan juga emoticon yang selalu ada disetiap pesan yang dikirimkan. Sangat hangat.

Beberapa pesan masuk, tapi, entah mengapa hatiku merasakan ada yang tidak beres. Tiba-tiba seperti akan dihadapkan pada sesuatu yang belum pernah aku rasakan. Dari pesan yang dikirimkan, aku tak melihat hangatnya itu. Aku tak merasakan bahwa dia sedang senang, apalagi rindu, jauh dari tu. 
Dia seolah-olah ingin mengatakan sesuatu yang penting, yang belum pernah aku dengar. Tentu saja, dia memanggil namaku, mengirimkan pesan seolah sedang memanggilku, “Ciko” seperti ucapan lirih darinya. Jantungku mulai saja berdegup kencang, tak karuan, was-was.

Dia memulai perbincangannya, harapanku pupus. Percakapan yang akau inginkan tak muncul, emoticon yang aku tunggu tak kunjung kulihat. Yang ada hanyalah obrolah serius. Aku tak mengerti apa yang dia bicarakan, lebih tepatnya aku tak mau mengerti. Apa yang dia bicarakan? Bukan sebuah komitmen, bukan masalah kebahagiaan, bukan pula kata-kata rindu yang ingin sekali aku dengar. Melainkan sebaliknya, haru, aku diam membisu, tak tahu aku ini sedang membaca pesan siapa? Dia memintaku untuk selesai.

Dia menjelaskan banyak. Kata-katanya seolah tak habis-habis untuk membuatku mengerti. Mau berapa kalipun kau minta dijelaskan, dia setuju, sampai berbusa pun dia mampu hanya demi membuat aku mengerti. 
Banyak sekali yang aku benci dari pikirannya saat itu. Yang seperti ini kita sudah pernah mengalami, ditahun 2016 dia sama seperti itu, hanya karena kesalahan bodohku dia memutuskan untuk menyelesaikan hubungan ini. Aku membujuknya untuk tidak melakukan itu, sampai aku temui dia, kembali dia membuatku mengerti kenapa dia harus melakukan itu, dengan hati yang keras kepala, lalu selanjutnya hanya akulah yang harus mengikhlaskan. Aku mengadu ke beberapa temanku, mereka berkata "Semua akan baik-baik saja", tapi bagiku, untuk berpisah darinya bukan perkara yang mudah. Dia menjelaskan bahwa dia tidak akan pergi kemana-mana, dia akan terus dekat denganku, menjadi temannya bukan menjadi kekasihnya. Dia terus saja meyakinkanku bahwa kita tidak mungkin berpisah, kita masih dalam satu lingkup pertemanan yang sama, masih dalam satu organisasi yang sama. Dia berkata lirih. Aku hanya bisa menangis saja berusaha menenangkan diri dan meyakinkan hati bahwa dia masih untukku dan semua akan baik-baik saja.

Ternyata perkataannya benar, kita masih sering bertemu, bersama, tertawa, bahkan masih sering bertukar kabar dan pesan. Aku senang tidak ada yang berubah darinya. Selang 3 bulan berlalu menjalani hubungan yang tidak berstatus, aku bingung. Jujur, untuk berkomunikasi dengan laki-laki lain saat itu aku jalani, mengobrol lewat aplikasi messenger pernah aku lakukan walaupun hatiku masih terpaut dengan hatinya. Hatiku bersikeras untuk tetap bersamanya. Dia pun memperlakukanku saat itu dengan baik. Kita layaknya pasangan kebanyakan, dengan status pacaran didalamnya, tapi tepatnya tak ada status saat itu. Dia terasa masih saja perhatian didalam 3 bulan itu, masih sangat peduli seperti aku ini benar-benar kekasihnya. Tapi hatiku bimbang, seperti di gantung. Aku tak nyaman menjalani hubungan seperti ini dengan seseorang. Aku ingin kejelasan.

Akhirnya setelah aku bujuk dia menyetujui untuk kita berstatus lagi. Dengan seperti ini aku bisa lebih fokus kepada laki-laki mana yang benar-benar sedang menjalin hubungan denganku.
Sampai saat itu, 2 tahun setelah itu hubungan kita masih berjalan dengan baik. Tak ada masalah yang besar, tak ada perdebatan yang hebat, tiba-tiba dia berkata lagi bahwa kita harus selesai. Aku mencoba menanyakan mengapa harus seperti ini? Apa mungkin kau sudah tak sayang lagi? Apa mungkin aku begitu membosankan untukmu? Tolong, aku tak mau seperti ini, tak mau.
Sebuah rangkaian kalimat di dapatnya dari sebuah buku. Dia berkata bahwa kata-kata itu menginspirasinya. "Bahwa cinta dan karir adalah kedua hal yang tidak bisa berjalan beriringan, walaupun keduanya sama-sama menpunyai peran yang penting, kau harus merelakan salah satu".
Dia mulai berpikir, kenapa pekerjaannya tidak berkembang? Kenapa dia harus terus bekerja diperusahaan yang sama sampai beberapa tahun? Dan dia mulai mengaitkan itu semua dengan urusah ibadahnya. Urusan ketuhanannya.

Mungkin benar, Allah masih sangat sayang kepadanya, dia masih diberi banyak rizki untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tapi bagi seorang laki-laki, gajih yang dia dapatkan saat ini sangatlah kurang. Belum untuk menabung, dan segala macamnya walaupun Allah masih dengan tulus memberi dia rizki, pekerjaan yang layak untuknya. Tapi, itu semua belumlah cukup. Tak berkembang. Dan dia kembali berpikir mengapa seperti itu?



Minggu, 23 September 2018

Apa kau merasakan?

Maaf, sekali lagi aku meminta maaf.
Sudah jarang untuk sempat mengunjungi laman ini. sepertinya setahun sekali aku bisa mampir, seperti orang-orang sibuk yang pulang ke halaman rumahnya. Tragis. Padahal banyak sekali yang ingin aku ceritakan. Sekarang, entah gaya tulisanku sudah berubah atau belum, atau masih se-lebay dulu. Hahaha tak apa-lah..

Pagi ini aku terbangun dari nyenyaknya tidurku. Entah aku selelah apa semalam, yang aku ingat hanya senangnya menikmati sore bersama dengan kawan-kawanku. Tak ada kau. Tak ada kau sang kekasih hati. Lamat-lamat aku mendengar suara seorang ibu yang dengan berani membangunkan anaknya ini. Dia terkaget-kaget melihatku tidur disusul dengan omelannya dipagi hari. Ibuku mengintropeksi sang anak saat keadaan anaknya penuh dengan kebingungan, kenapa pagi kau cepat sekali datang? Dia tidak henti berbicara. "Astagfirullah... kamu mah kalau udah tidur teh susah bangun. Ini jendela lupa kau tutup juga! Trus pasti kau lupa sholat Isya kan?" aku tak mengiyakan, hanya tersipu melihat kearah wajah ibuku dan seketika melihat lagi jendela yang benar-benar terbuka. "Ayo bangun, cepat sholat subuh! Sudah siang". Perintah ibu. Tak aku iyakan karena kepala sudah bingung sedari tadi, aku langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

Aku tak tahu menahu kenapa keadaan badanku kali ini membuatku begitu pulas sekali tertidur. Apa aku melakukan perjalanan yang jauh? Atau mungkin aku melakukan aktifitas yang lebih dari biasanya? Aku berpikir, tapi setelah diingat-ingat, ah, mana mungkin? Seharian kemarin aku hanya berjalan-jalan santai di pasar minggu, lalu menunggu teman dekatku datang selama berjam-jam menunggu aku hanya bisa duduk terdiam, mendownload banyak lagu di kost-an temanku yang ada koneksi internetnya, setelah itu datang temanku, dan kita jalan mengelilingi mall, melihat-lihat harga tenda yang memang itu tujuan utama, survey harga. Setelah itu, sudah, tak ada lagi kegiatan. Lalu apa penyeban badanku ini menjadi lemas sekali pagi ini? Entalah.

Seperti biasa, setelahnya aku langsung membasu badanku. Entah mengapa air dalam bak mandi terasa seperti air es. Dinginnya terasa sekali, aku mengguyur langsung tak ingin berlama-lama. Dan kembali kerutinas keseharianku, disekolah.
Kau tau apa yang ingin aku segera cepat sampai ke tempat kerjaku? Ya, tak lain adalah aku mengajari anak-anak di TK ku membaca dan mengaji. Senang sekali rasanya melihat anak-anak dengan semangat mengantri untuk mengaji kepadaku. Ya, walaupun ada juga yang patah-patah dalam mengeluarkan suaranya, terkadang aku geram sendiri. Sabar.

Setelah selesai aku kembali menuju meja tempatku bekerja. Nyaman, cukup nyaman. Entah apa yang membuatku lelah hari ini. Apa aku terlalu banyak tertidur semalam? Atau kenapa? Semangatku tak seperti biasanya. Aku sempat melamun jua.
Tiba-tiba datang temanku duduk disebelahku. Aku tak terlalu memperhatikannya. Aku lupa apa yang dia katakan sebelumnya kepadaku. Setelah beberapa detik berlalu, aku masih dalam keadaan melamun dan temanku tentu saja membangunkanku. Aku kerap disapa "Neng" olehnya, dan aku lebih senang dengan memanggilnya "Ibu" karena kita bekerja di sekolahan yang mungkin tak aneh juga memanggil "Ibu/Bapak" ke sesama rekan kerjannya disekolah.
Aku merasa ada yang melihatku. Ah aku tak peduli, sangat malas untuk menoleh. Icon komputer di depanku malah terlihat lebih menarik. "Neng! Kenapa melamun gitu" oh, si ibu yang memperhatikanku, mengajakku bangun dari lamunan. "Eh, engga bu". Aku bingung harus menjawab apa, karena akupun tidak tahu apa yang aku lamunkan dan aku pikirkan. Kita terdiam. Aku yang sedari tadi mengucek mataku lalu menjawab, "Ini.. Kok ngantuk gini yaa? Padahal tadi malem tidurnya nyenyak banget, apa kelamaan tidur gitu yaa, Bu?" Alasanku meyakinkan.
Si ibu teruslah menatapku lalu berkata.
"Neng mah, gak pernah kelihatan sedih ya?" Aku takzim mendengarnya, terdiam. "Kayaknya gak pernah nangis gara-gara cinta, ya? Kan, yang banyak saya lihat, anak SMA sekarang kebanyakan galau dan sampai nangis gara-gara cinta" Si ibu melanjutkan.
Aku yang tak bisa menjawab pertanyaannya itu hanya bisa melanjutkan diam lalu tersenyum seadanya.

Kau tahu apa yang sudah aku lalui beberapa minggu kebelakang?
Apa yang telah aku jalani saat ini, apa yang membuat aku bisa sekuat ini, dan orang-orang beranggapan akan aku yang baik-baik saja. Apa kau merasakan juga ini? Sedih. Aku bingung, berusaha kuat, berusaha melupakan, dan yang penting aku berusaha bahagia sebisa mungkin. Mungkin iya, aku berhasil di muka umum, dihadapan teman-temanku, keluargaku, dan dihadapan orang-orang yang aku temui. Tapi kau tahu, apa yang aku rasakan? Apa kau merasakannya juga?

Yaa Tuhan, semua ini sungguh berat sekali. Entah aku harus merasakan bahagia atau sedih. Entah aku harus merasakan bangga atau kecewa. Aku tak tahu. Berat hati menjalani ini semua. Langkahku menjadi sangat berat. Kepalaku sering sekali terdunduk. Pikiranku tak bisa berkompromi. Semua hal yang aku pikirkan, semua tertuju padamu. Dan yang lebih menyedihkan, darimana air mata sederas itu muncul? Bagaimana bisa air itu tak pernah surut? Padahal air itu terus saja mengganggu pipiku. Beberapa kali harus kuhabiskan persediaan tissueku. Aku takut pipiku hilang karna terbawa air mata itu. Ah, sial.

Aku tak menyangka bahwa akan secepat ini, akan setiba-tiba ini. Tuhan memang pandai sekali membolak-balikkan hati hambaNya. Dengan sekejap saja dia mampu untuk berbicara seperti itu, dengan intonasi yang penuh keyakinan akan merasa benar dan menganggap bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kau akan terbiasa, ucapnya.

Kau tahu awal bulan Agustus kemarin, aku yang memutuskan untuk pergi kemping dengannya, awalnya aku senang bisa kemping lagi dengan teman-teman kampusku, bersamanya juga, tak ada yang lebih istimewa dibandingkan dengan kita bisa bersama bermalam dengan orang-orang yang kita sayangi. Tapi ternyata itu tak bisa diwujudkan. Teman-temanku mendadak mengabari bahwa mereka tak bisa ikut. Kecewa? Benar-benar aku kecewa. Aku sudah menata semuanya, bahkan lagi telah ku pikirkan serunya ditengah malam ber-api unggun menemani obrolan kita. Bayangkan saja, di alam lepas tertawa dengan kawan-kawanku. Ya, sudahlah, mungkin lain waktu, pikirku. Tetapi tak ku sangka doi tetap melanjutkan rencana ini. Jadilah aku pergi kemping saat itu. Senang, gembira sekali rasanya.

Tak usah kuceritakan bagaimana kempingnya. Kau juga tahu sendiri, aku paling bersemangat akan itu. Aku tak ingin menciptakan kesan buruk didalamnya. Dan yang pasti malam itu benar-benar indah dengan keadaan lagit yang cerah dan ditambah dengan obrolan manis berselimutkan asap dari api unggun.

Selang dari itu semua, kita kembali dalam rutinitas kita masing-masing. Saling berjauhan, yang terdekat kala itu hanyalah kabar dari sebuah aplikasi messenger. Aku tak ingin menambah kacau harinya. Kala itu, tak berani untukku memaksanya selalu memberi kabar kepadaku, apalagi ditengah kesibukannya, aku memaklumi. Lagipula, aku sudah cukup puas dengan malam itu. Mungkin ini saatnya dia membagi waktunya dengan yang lain. Tak kuasa aku mengganggunya.
Beberapa hari setelah kemping itu, kau tahu, notifikasi di handphone ku pertanda ada pesan yang masuk darinya itu setelah larut malam, oh, mungkin dia sedang banyak-banyaknya perkerjaan, ditambah dengan les Bahasa Inggrisnya juga. Tak mengapa, aku akan menunggu.

Beberapa hari, pesan darinya pun datang saat hari sudah larut. Aku senang, ditambah aku jengkel. Dia mengabariku saat dirinya sudah merasa ngantuk. Tak bisa aku melarangnya untuk tidak tidur, dalam batin ingin sekali aku berkata, "Ayolah, aku masih rindu, kau jangan tidur dulu. Menunggu esok hari akan terasa sangat lama bagiku". Tapi sia-sia. Aku tak bisa mencegahnya. Dia segera pamit.

Seminggu pertama aku bersabar, terkadang rindu tak mau berkompromi, dia masih sama seperti itu.
Dua minggu berlalu. Jengkel sekali rasanya. Seperti dilupakan saja. Kau kemana? Sungguh kau menjengkelkan, tapi, ya, ampun, aku sangat merindukanmu. Kali ini, aku tak menyangka, rasa jengkelku memenagkan semuanya. Rinduku takluk. Hatiku hilang kendali, bertengkar dengan pikiranku yang semraut. Kau tahu hal bodoh apa yang aku lakukan kala itu?
Aku memutuskan untuk tidak lagi mengirimu pesan singkat. Untuk tidak lagi mengabarimu barang sehari dua. Ya, mungkin saja aku bisa sepertimu, cuek dengan segalanya. Bisa bertahan mungkin untuk beberapa minggu. Berpikiran kamu sedang bosan dengan aku. Tak apalah. Batin ini selalu saja meracau, berharap penuh bahwa kau akan mencariku, mencari keberadaanku, bertanya-tanya kenapa tidak notifikasi pesan dariku. Lalu dengan sigap kau mulai memulai obrolan baru, setelah itu kita berbincang melalui video call di tengah malam hingga suntuk. Merasakan betapa rindunya kau padaku.

Tapi aku salah, beberapa kali kulihat handphone, tak kudapati itu. Aku mulai kecewa. Rinduku semakin mengebu-gebu. Ternyata aku tak bisa menahan. Rinduku kini yang menang. Dia gagah berani untuk segera mengirimkan pesan singkatnya. "Hai", adalah kalimat pertama saat itu. Tak butuh waktu lama, dia membalas. Demi apapun aku senang. 

Sekarang, Sendiri.

" Aku terlahir kedunia ini bukan aku yang menginginkannya. Tapi karena takdir yang telah Allah tuliskan agar Tuhanku bisa melihat seb...