Senin, 22 Oktober 2018

Sekarang, Sendiri.

"Aku terlahir kedunia ini bukan aku yang menginginkannya. Tapi karena takdir yang telah Allah tuliskan agar Tuhanku bisa melihat sebagaimana imanku selama aku hidup. Menjadi anak perempuan yang cantik, sholehah dan menjadi kebanggaan kedua orang tua. Itu yang orang-orang harapkan kepadaku. Tak apa, akan mudah menjalani ini semua, toh, aku dicintai, aku dikelilingi orang-orang yang sayang kepadaku."
Itu pikiran sederhanaku kala aku kecil.

Aku mulai tumbuh dan berkembang. Entah tumbuh menjadi yang lebih dewasa atau tidak. Entah berkembang menjadi seseorang yang baik atau tidak. Aku tak tahu. Akupun tak bisa menilai diriku sendiri. Terlalu sulit untuk mengerti akan diriku, apa saja yang aku mau. Bagaimana harus ku jalani semua ini?

Sekarang, Sendiri
Menyepi menyambut sepi
Terlelah dengan dunia fana ini
Aku ingin aku
Aku yang dahulu
Yang tak melulu memikirkan kau atau nasibku
Yang senang berlari dan berteriak sekeras yang kubisa
Mengubah tangisan menjadi tawa yang memecahkan lamunan 
Mengubah apapun seperti yang ku mau dalam bentuk mainanku.

Sampai akhirnya aku berada dititik ini. Merasakan menjadi dewasa yang aku sendiripun tak tau caranya menjadi dewasa. Harus seperti apa menjadi dewasa itu?
Diri terbawa riaknya angin, berhembus halus ciptakan sejuk. Aku ingin pergi. Sekarang juga. Bersamaan dengan angin itu, bawalah aku hilang..

***

Apa semua yang membaca tulisan ini sedang paham keadaanku? Apa kalian pernah sama sepertiku?
Beberapa minggu ini ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku. Aku yang tak tahu harus berbuat apa hanya berusaha sebisa mungkin tetap tersenyum dan ikhlas menghadapinya. 
Allhamdulillah sampai detik ini aku masih bisa merasakan dunia pekerjaan. Berkutan dengan orang-orang berpendidikan dalam bidangnya. Berinteraksi setiap hari dengan mereka. Memmbahas apapun yang mereka suka. Aku siap mendengarkan. 

Pekerjaanku terbilang sangat mudah. Aku bekerja dalam bidang pendidikan formal pada sebuah Taman Kanak-kanak. Disanalah aku bekerja. Kalian pasti mengganggap aku hebat sekali bisa mengajari anak usia dini disekolah. Tapi prasangka kalian salah, aku hanya mendapat tugas dalam bidang Administrasi di sekolah itu. Bukan hal yang patut dibanggakan. 

Terbilang cukup lama aku bekerja disana. Entah apa yang membuatku terus saja berkutat pada satu tempat yang sama. Mungkin selain di TK, iya, aku juga mengajar. Lebih tepatnya mengajar mengaji. Kau tak percaya? Aku pun. Aku bukan ustadzah sholehah yang di tugaskan untuk mengajar mengaji disana. Dan aku pun masih bingung mengapa aku menerima tawaran itu. Menerima tanggung jawab yang besar untuk menjadi pengajar yang mendidik anak-anaknya untuk menjadi sholeh. Sedangkan aku pun belum bisa sebaik itu.

Tapi lambat laun aku mulai menikmatinya. Terlebih aku menikmati saat aku berinteraksi dengan murid-muridku. Mungkin disini yang belajar banyak itu adalah aku sendiri. Dari mereka aku mengetahui banyak hal. Dari mereka pula banyak pelajaran yang aku ambil. Mereka teristimewa sampai saat ini. Aku terlanjur suka pada tingkah laku mereka yang kian hari makin saja menggemaskan dan membuatku bangga. Sampai pada tahap aku tak mau untuk kehilangan murid-muridku. Ya, walaupun aku dan muridku ada dalam satu lingkup yang dekat, untuk tidak bisa mengajari mereka seperti kerugian yang sangat besar untukku. Pahala mungkin akan terus mengalir selama aku ikhlas, dan mereka sudah menjadi bagian dari hidupku sendiri.

Kian murid silih datang dan berganti-ganti. Ada yang rajin ada pula yang moody saat belajar. Tak apa, mungkin mereka pada masanya. Ada anak laki-laki ada juga anak perempuan, mereka saling bersautan jika sedang dikelas, membuat gaduh, tapi tak menyurutkan semangatku untuk bisa tetap mengajari mereka. Kadang aku yang malu sendiri menjadi guru yang tidak bisa profesional, tidak siap mengajar, tidak ada perencamaan. Materi yang ku berikan tak beraturan. Tapi lagi-lagi mereka menikmati suasa kelas bersamaku.

Tapi beberapa waktu ini, kabar yang sepertinya buruk menimpaku. Aku tak mengerti, sebaiknya aku paham, tapi ini terlalu mengganggu. Aku mempunyai teman, ya, bisa dianggap umurnya sudah menuju untuk tahap ibu-ibu dia mempunyai anak satu yang dekat sekali denganku. Aku berteman baik dengannya. Lebih tepatnya, aku lebih menghargai dia, karna umur kita yang terpaut jauh mengharuskanku lebih sopan kepadanya.

Dia bisa  dibilang kepercayaan pengurus yayasan. Aku akui sikap jujurnya menyebabkan dia disukai banyak orang. Tapi aku akui juga sikapnya yang selalu menggunjing seseorang membuatku sangat risih. Selain aku takut jadi korbannya, aku pun tak suka mendengarnya. Mulutnya membuat banyak orang sakit hati, orang-orang tak mau berdebat dengannya karna dia tak mau disalahkan. Juga, menurutku sikap ini tak pantas dia lakukan, mengenal dia orang yang mahfum dalam agama, tahu hadist-hadist dan aturan dalam agamanya. Tapi untuk mulutnya tak pernah dia kontrol. Ya mungkin tidak ke banyak orang, tetapi sama saja, yang namanya menggunjing seseorang itu adalah berdosa.

Dia yang menyampaikan "kabar buruk" itu. Apa kau tahu isi pesannya? Katanya seperti ini.. "Untuk pengajar ngaji sore, beberapa bulan kedepan saat santri sudah kembali kesini maka pengajar sore akan diberhentikan dan digantikan oleh santri.". Awalnya aku tak masalah dengan itu, awalnyaaaa... Dia pun memegang kelas ngaji sore dengan usia paud. Dan mendengar kabar seperti itu dia pun bingung harus bagaimana. Dia harus berhenti juga dan mencari rumah lagi karna selama ini dia tinggal di kontrakan yang disediakan oleh yayasanku. Jika dia berhenti untuk mengajar, maka dia harus mencari tempat tinggal baru.

Beberapa minggu mendengar itu aku masih tenang saja. Pikirku, mana mungkin pengajar ngaji diganti semua menjadi laki-laki, akan tidak kondusif mengatur anak-anak yang notaben masih usia dini , santri pun masih muda dan tidak ada pengalaman mengajari anak usia paud. Mungkin kepala yayasan akan berpikir ulang untuk itu. Tapi untuk sekali lagi, temanku itu yang membawa kabar. Dia mulai berbicara, "Untuk yang diganti gurunya adalah yang pegang kelas tinggi, untuk usia paud masih sama ustadzah yang mengajar". Aku langsung menarik kesimpulan. Dia tidak akan diganti, dan hanya aku yang akan digantikan karna aku yang memegang kelas tinggi (Anak-anak kelas SD). Dan saat ku lihat dia berkata seperti itu, tak ada lagi raut wajah cemasnya. Tak ada sepatah katapun yang terucap dariku. Aku pun malas untuk berbincang atau menanyakan sesuatu kepadanya. Rasanya ada hati yang dipatahkan lagi semangatnya.

Aku berpikir, oh, ya, tidak apa mungkin bukan rezeki lagi. Mungkin Allah sedang mempersiapkan yang lebih manis untukku. Jujur, dari penghasilan selama mengajar mengaji di Yayasan itu sangat membantu keuanganku. Dan karna aku belum sepenuhnya percaya pada apa yang telah ditakdirkan untukku. Mungkin ini jawabannya. Aku kurang bersyukur. Aku merasa selain pekerjaanku, akan ada anak muridku juga yang akan diambil alih oleh orang lain. Murid-murid yang sangat aku sayangi dan aku banggakan. Kini harus aku rela melepasnya demi bisa belajar dengan pengajar yang lebih mampu.

Aku yang bingung harus bagaimana menghadapi kedua orang tuaku. Mereka takkan membiarkanku terpuruk, aku percaya itu. Tapi ini aku, yang tak bisa membahagiakan mereka, tak bisa mengasihi apa yang mereka mau, tak bisa membuat mereka bangga. Mereka takkan menuntu. Iya betul, tidak menuntuk sepeserpun. Tapi malukah kau, jika sudah bekerja bertahun-tahun tetapi tidak mendapatkan hasil apa-apa. Aku terlalu boros. Maafkan aku Ya Allah, aku begitu serakah.

***

Apa hanya aku saja yang merasa bahwa aku tak dibutuhkan? Aku yang merasa bahwa orang-orang tidak ada yang percaya kepadaku. Dan akulah yang mungkin tidak berguna lagi saaat ini. Aku merasa tak punya lagi harapan. Aku tak tahu apa lagi yang akan aku lakukan selanjutnya. AKU HARUS BERLAPANG DADA menerima takdirku dan jalan hidupku sekarang. Aku merasa 'stuck' pada tempatku berpijak sekarang. Aku harus belajar ikhlas dan lebih bersyukur atas apa saja yang aku hasilkan. Aku ingin pergi jauh dari orang-orang terdekatku, memulai hidup dengan suasana yang baru untuk membuktikan bahwa akupun mampu. Aku ingin menghilang, agar semua orang tak mengganggap remeh diri ini. Aku akan berubah!

Rabu, 10 Oktober 2018

Rumit

Mungkin iya teman lebih berharga dari apapun. Engkau bisa melewati hari bersama mereka tanpa harus basa-basi dan jaim-jaim. Teman yang sesungguhnya adalah dia yang tau apapun keburukan yang kita punya, tak merasa keberatan, dan selalu menerima. 

Tapi ternyata tak semua orang-orang bisa seperti itu berharap kepada teman mereka. Mereka seakan yang paling tahu bagaiman sikap dari teman-teman yang mereka punya, tapi setelah mereka mengacaukan harimu atau hanya mengacaukan mood-mu, mereka langsung saja berubah dan banyak kesalah pahaman yang terjadi. 

Apa sebenarnya kita telah sepenuhnya tahu bagaimana sikap seseorang terdekat kita? Apa harus kita terpecah belah jika ada yang kita tak sukai dari mereka? Pohonpun tak keberatan jika angin menjatuhkan daun-daunnya berkali-kali. Kau merasa paling sempurna dengan pertemananmu, tapi sedikit saja digoyahkan lalu berubah menjadi kepingan logam tak menyatu. 

Jika kau ingin berteman dengan seseorang janganlah kau mengekang mereka agar terus bersama selalu denganmu dan merasa cemburu buta hanya karna dia dekat dengan seseorang yang lain. Lepaskan mereka, mereka bukan budakmu bukan pula kekasihmu. Silakan saja mereka berteman dengan siapapun, tak hanya dengan kau. Dengan begitu, kaupun akan mengenali siapa temannya yang lain, yang akan menambah temanmu juga, bukan, nantinya?

Kali ini aku tak percaya bahwa aku akan ada di vase ini. Vase yang benar-benar rumit yang menyangkut beberapa temanku. Kau tahu, selama ini aku tak ingin merepotkan teman-temanku. Kalian tak lebih dari sebatas teman saja, bukan keluarga. Kau mengakui bahwa pertemanan ini telah seperti keluarga baru bagimu. Tapi bagiku tidak, kita masih mempunyai batasan. Kau tak boleh menerobos masuk begitu saja. 

Beberapa minggu terakhir ini aku menyadari satu hal, bahwa aku tak bisa terus bergantung kepada orang lain, walaupun mereka dekat denganku. Candaan mereka bahkan pula tangis isak mereka aku sudah mengenalnya. Tapi bukan sebagai acuan jikalau aku harus terus menghubungi mereka, meminta pertolongan yang akupun sendiri bisa memikulnya. Aku, hanya butuh waktu yang mungkin beberapa minggu ini menjadi minggu atau menjadi bulan-bulan tersulit. Tak perlu kau tampar, aku sudah sadar.

Jika ada yang bilang sekarang aku menjadi tertutup, kau salah besar.
Jika aku ingin menutupi kesedihanku dengan mengembangkan senyum dan tawa, apa aku salah?
Jika kau melihat aku terpuruk lalu aku bunuh diri, itu baru, kau bisa mnyelahkanku.
Jujur, kau kemana saja saat aku dalam keadaan kesedihan yang mendalam? Kau dari mana saja tak menengok keadaanku ini yang kau bilang sendiri "Aku Peduli Padamu".

Mungkin masih, sudah terlalu nyaman seperti ini. Akan aku pupuk kembali emosiku, energi positifku, dan keceriaanku yang sangat kau suka. Tapi tak perlu dengan banyak orang, itu malah membuatku pusing. Bahkan sekarang, mereka akan mengobrol dengan topik masing-masing, tak membaur. Dengan hanya beberapa teman atau bahkan sendiripun lebih nyaman. Kau rasakan saja sendiri.


Senin, 08 Oktober 2018

H I L A N G

Hilang.. Semuanya hilang. Ya, menghilang.
Aku yang membuat mereka hilang..
Teruntuk teman dekatku, kau benar, aku egois.

Aku tak yakin pertemanan kita akan berlanjut atau sampai disini saja. Melihat kau begitu kecewa kepadaku. Hari ini, aku baru merasakan kasih sayang tulus sahabatku. Maafkan aku yang bisa membuatmu seperti ini. Aku tak bisa membanggakan engkau. Terimakasih atas hari ini. Hari yang mengharuskanmu bawel kepadaku yang keras kepala.

Aku sengaja mematikan handphone-ku, aku tak kuasa melihat semua isi pesanmu yang betul betul sangat marah, mungkin, atas tindakanku belakangan ini. Temanku, aku seperti kehilangan lagi sosok-sosok yang sangat aku sayangi. Tuhan, cukup. Maafkan aku. Aku tak bisa setegar itu. Apa aku harus menyerah? Semuanya hilang, kunci semangatku telah hilang entah kemana. Gara-gara tak ku simpan dengan baik. 

Aku memang tak ingin kau tau atas semua kerapuhanku. Seharusnya aku tak memberi tahu. Seharusnya aku diam saja seperti sebelum-sebelumnya. Dengan tawa seikhlas mungkin yang aku buat. Seperti itu saja seharusnya, yang lainnya tak perlu. Kau, ah sudahlah, aku hampir putus asa. Tak tahu caranya untuk membujuk. Kali ini mungkin memang aku yang salah. Aku yang tak bisa sekuat dan sebahagia dirimu.

Temanku. Aku masih ingin menjadi yang terdekat untuk kamu. Yang bisa terus bercerita sampai larut malam dan berganti hari. Yang sangat antusias bila diajak bermain kemanapun itu kamu menyanggupi. Aku masih ingin menemuimu di hari ulang tahunmu. Apa kau masih mau menganggapku yang super egois ini menjadi temanmu? Teman dekatmu? 

Aku hilang arah. Semua sudah coba aku lakukan, akan aku buktikan bahwa aku bisa, dengan caraku sendiri. Melupakan yang tak seharusnya aku simpan terus dalam memori otakku. Rasanya penat. Kau seakan seperti orang tuaku yang menasehati anaknya dengan sangat. Berharap bahwa anaknya itu tak salah arah, tak hilang tujuan. Itu sekarang yang aku lihat darimu. Seperti itulah caramu tadi menunjukkan betapa pedulinya kamu dengan temanmu yang bodoh ini, terlalu dibutakan. Tangisku semakin menjadi-jadi. Jangan sampai aku mengantuk malam ini, sungguh, aku tak ingin ini masuk dalam mimpiku menjadi cerita yang buruk. Aku ingin terjaga.

Kawanku, dengar. Dia bukan malaikat, dia juga bukan seorang pangeran, dia bukan satu-satunya. Tapi sangat membigungkan. Hati dan otakku bekerja sama terus saja memutar memori bersamanya. Terus, tanpa henti, setiap detik. Kau pun tau kawanku, aku tak bisa lepas dengan mudah darinya. Aku selalu berusaha, pasti. Ku belikan semua uang saku ku untuk membeli buku dengan niat aku bisa berhadapan terus dengan alur cerita yang ku baca lalu setelahnya aku bisa melupakannya. Tapi sama saja, tak berhasil. Begitupun dengan aktifitas yang lain. 

Sungguh, aku ini lemah. 2 tahun yang lalupun sama seperti ini, waktu dia ingin menyudahi, aku menelfonmu dan menangis dari ujung telfon itu. Pagi-pagi buta kau harus mendengar aku menagisinya, dan kau memberiku semangat untuk terus meneruskan hidupku saat itu. Dan sekarangpun sama, tapi bedanya, kali ini aku tak berani menagis dihadapanmu. Aku malu, aku tak bisa mengendalikan diriku. Biarkan kau anggap bahwa aku ini baik-baik saja. Aku tak perlu merepotkanmu dengan harus bercerita tentang seorang laki-laki yang sama.

Aku akui, selama ini aku tak tahu harus berbuat apa. Merenung, sendirian, menata lagi hati yang aku rasa cukup sulit, lalu berpikir apa yang akan aku lakukan setelah ini. Maafkan aku, aku seegois ini. Aku sungguh-sungguh tak menyangka bahwa akhirnya ada tangis juga yang pecah gara-gara aku. Aku tak memikirkan orang lain. Jika kau mulai muak denganku, baiklah aku akan terima itu. Maksudnya mencoba menerima, karna sesunguhnya kehilangan orang yang aku sayang untuk kedua kalinya aku tak yakin akan menjadi seperti apa hidupku. Aku, Kau, dan Dia, kita semua bertemu dalam tahun yang sama. Aku anggap kalianlah yang sangat mengenal aku. 

Biarkan aku sendiri dulu merasakan ini, terpuruk seperti ini. Akan ku dekatkan kembali diriku dengan Sang Pemilik Hati, dan keluarga kecilku yang aku banyak kehilangan waktu bersama mereka. Teruntuk teman-temanku yang lain, maafkan aku sekali lagi, maaf. Bukan aku yang so kuat. Kalian pasti teristimewa, hatiku saja yang keras kepala, membatu. Hukum saja aku, dengan perasaan bodoh seperti ini.

Dan untuk Sahabatku--kawanku--teman dekatku, aku berharap kamu bersedia menerima maafku, tak perlu kau harus sebaik itu lagi kepadaku, itu sudah cukup, lebih dari cukup, aku tak mau merepotkanmu lagi. Aku tak ingin pikiranmu lelah hanya memikirkan persoalan tentangku, biarkan saja. Obatmu lebih banyak dari yang kubayangkan, minumlah dengan teratur, jangan banyak merokok!

Sekarang, Sendiri.

" Aku terlahir kedunia ini bukan aku yang menginginkannya. Tapi karena takdir yang telah Allah tuliskan agar Tuhanku bisa melihat seb...