Rasa
jengkelku berubah seketika. Senyum-senyum penuh harap akan datang lagi percakapan yang aku sukai. Dari gaya
bicaranya, selera humornya, dan juga emoticon
yang selalu ada disetiap pesan yang dikirimkan. Sangat hangat.
Beberapa pesan masuk, tapi, entah mengapa hatiku merasakan ada yang tidak
beres. Tiba-tiba seperti akan dihadapkan pada sesuatu yang belum pernah aku
rasakan. Dari pesan yang dikirimkan, aku tak melihat hangatnya itu. Aku tak
merasakan bahwa dia sedang senang, apalagi rindu, jauh dari tu.
Dia seolah-olah ingin mengatakan sesuatu yang penting, yang belum pernah aku
dengar. Tentu saja, dia memanggil namaku, mengirimkan pesan seolah sedang
memanggilku, “Ciko” seperti ucapan lirih darinya. Jantungku mulai saja berdegup
kencang, tak karuan, was-was.
Dia memulai perbincangannya, harapanku pupus. Percakapan yang akau inginkan
tak muncul, emoticon yang aku tunggu
tak kunjung kulihat. Yang ada hanyalah obrolah serius. Aku tak mengerti apa
yang dia bicarakan, lebih tepatnya aku tak mau mengerti. Apa yang dia
bicarakan? Bukan sebuah komitmen, bukan masalah kebahagiaan, bukan pula
kata-kata rindu yang ingin sekali aku dengar. Melainkan sebaliknya, haru, aku
diam membisu, tak tahu aku ini sedang membaca pesan siapa? Dia memintaku untuk
selesai.
Dia menjelaskan banyak. Kata-katanya
seolah tak habis-habis untuk membuatku mengerti. Mau berapa kalipun kau minta
dijelaskan, dia setuju, sampai berbusa pun dia mampu hanya demi membuat aku
mengerti.
Banyak sekali yang aku benci dari pikirannya saat itu. Yang seperti ini kita sudah pernah mengalami, ditahun 2016 dia sama seperti itu, hanya karena kesalahan bodohku dia memutuskan untuk menyelesaikan hubungan ini. Aku membujuknya untuk tidak melakukan itu, sampai aku temui dia, kembali dia membuatku mengerti kenapa dia harus melakukan itu, dengan hati yang keras kepala, lalu selanjutnya hanya akulah yang harus mengikhlaskan. Aku mengadu ke beberapa temanku, mereka berkata "Semua akan baik-baik saja", tapi bagiku, untuk berpisah darinya bukan perkara yang mudah. Dia menjelaskan bahwa dia tidak akan pergi kemana-mana, dia akan terus dekat denganku, menjadi temannya bukan menjadi kekasihnya. Dia terus saja meyakinkanku bahwa kita tidak mungkin berpisah, kita masih dalam satu lingkup pertemanan yang sama, masih dalam satu organisasi yang sama. Dia berkata lirih. Aku hanya bisa menangis saja berusaha menenangkan diri dan meyakinkan hati bahwa dia masih untukku dan semua akan baik-baik saja.
Ternyata perkataannya benar, kita masih sering bertemu, bersama, tertawa, bahkan masih sering bertukar kabar dan pesan. Aku senang tidak ada yang berubah darinya. Selang 3 bulan berlalu menjalani hubungan yang tidak berstatus, aku bingung. Jujur, untuk berkomunikasi dengan laki-laki lain saat itu aku jalani, mengobrol lewat aplikasi messenger pernah aku lakukan walaupun hatiku masih terpaut dengan hatinya. Hatiku bersikeras untuk tetap bersamanya. Dia pun memperlakukanku saat itu dengan baik. Kita layaknya pasangan kebanyakan, dengan status pacaran didalamnya, tapi tepatnya tak ada status saat itu. Dia terasa masih saja perhatian didalam 3 bulan itu, masih sangat peduli seperti aku ini benar-benar kekasihnya. Tapi hatiku bimbang, seperti di gantung. Aku tak nyaman menjalani hubungan seperti ini dengan seseorang. Aku ingin kejelasan.
Akhirnya setelah aku bujuk dia menyetujui untuk kita berstatus lagi. Dengan seperti ini aku bisa lebih fokus kepada laki-laki mana yang benar-benar sedang menjalin hubungan denganku.
Sampai saat itu, 2 tahun setelah itu hubungan kita masih berjalan dengan baik. Tak ada masalah yang besar, tak ada perdebatan yang hebat, tiba-tiba dia berkata lagi bahwa kita harus selesai. Aku mencoba menanyakan mengapa harus seperti ini? Apa mungkin kau sudah tak sayang lagi? Apa mungkin aku begitu membosankan untukmu? Tolong, aku tak mau seperti ini, tak mau.
Sebuah rangkaian kalimat di dapatnya dari sebuah buku. Dia berkata bahwa kata-kata itu menginspirasinya. "Bahwa cinta dan karir adalah kedua hal yang tidak bisa berjalan beriringan, walaupun keduanya sama-sama menpunyai peran yang penting, kau harus merelakan salah satu".
Dia mulai berpikir, kenapa pekerjaannya tidak berkembang? Kenapa dia harus terus bekerja diperusahaan yang sama sampai beberapa tahun? Dan dia mulai mengaitkan itu semua dengan urusah ibadahnya. Urusan ketuhanannya.
Mungkin benar, Allah masih sangat sayang kepadanya, dia masih diberi banyak rizki untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tapi bagi seorang laki-laki, gajih yang dia dapatkan saat ini sangatlah kurang. Belum untuk menabung, dan segala macamnya walaupun Allah masih dengan tulus memberi dia rizki, pekerjaan yang layak untuknya. Tapi, itu semua belumlah cukup. Tak berkembang. Dan dia kembali berpikir mengapa seperti itu?
Banyak sekali yang aku benci dari pikirannya saat itu. Yang seperti ini kita sudah pernah mengalami, ditahun 2016 dia sama seperti itu, hanya karena kesalahan bodohku dia memutuskan untuk menyelesaikan hubungan ini. Aku membujuknya untuk tidak melakukan itu, sampai aku temui dia, kembali dia membuatku mengerti kenapa dia harus melakukan itu, dengan hati yang keras kepala, lalu selanjutnya hanya akulah yang harus mengikhlaskan. Aku mengadu ke beberapa temanku, mereka berkata "Semua akan baik-baik saja", tapi bagiku, untuk berpisah darinya bukan perkara yang mudah. Dia menjelaskan bahwa dia tidak akan pergi kemana-mana, dia akan terus dekat denganku, menjadi temannya bukan menjadi kekasihnya. Dia terus saja meyakinkanku bahwa kita tidak mungkin berpisah, kita masih dalam satu lingkup pertemanan yang sama, masih dalam satu organisasi yang sama. Dia berkata lirih. Aku hanya bisa menangis saja berusaha menenangkan diri dan meyakinkan hati bahwa dia masih untukku dan semua akan baik-baik saja.
Ternyata perkataannya benar, kita masih sering bertemu, bersama, tertawa, bahkan masih sering bertukar kabar dan pesan. Aku senang tidak ada yang berubah darinya. Selang 3 bulan berlalu menjalani hubungan yang tidak berstatus, aku bingung. Jujur, untuk berkomunikasi dengan laki-laki lain saat itu aku jalani, mengobrol lewat aplikasi messenger pernah aku lakukan walaupun hatiku masih terpaut dengan hatinya. Hatiku bersikeras untuk tetap bersamanya. Dia pun memperlakukanku saat itu dengan baik. Kita layaknya pasangan kebanyakan, dengan status pacaran didalamnya, tapi tepatnya tak ada status saat itu. Dia terasa masih saja perhatian didalam 3 bulan itu, masih sangat peduli seperti aku ini benar-benar kekasihnya. Tapi hatiku bimbang, seperti di gantung. Aku tak nyaman menjalani hubungan seperti ini dengan seseorang. Aku ingin kejelasan.
Akhirnya setelah aku bujuk dia menyetujui untuk kita berstatus lagi. Dengan seperti ini aku bisa lebih fokus kepada laki-laki mana yang benar-benar sedang menjalin hubungan denganku.
Sampai saat itu, 2 tahun setelah itu hubungan kita masih berjalan dengan baik. Tak ada masalah yang besar, tak ada perdebatan yang hebat, tiba-tiba dia berkata lagi bahwa kita harus selesai. Aku mencoba menanyakan mengapa harus seperti ini? Apa mungkin kau sudah tak sayang lagi? Apa mungkin aku begitu membosankan untukmu? Tolong, aku tak mau seperti ini, tak mau.
Sebuah rangkaian kalimat di dapatnya dari sebuah buku. Dia berkata bahwa kata-kata itu menginspirasinya. "Bahwa cinta dan karir adalah kedua hal yang tidak bisa berjalan beriringan, walaupun keduanya sama-sama menpunyai peran yang penting, kau harus merelakan salah satu".
Dia mulai berpikir, kenapa pekerjaannya tidak berkembang? Kenapa dia harus terus bekerja diperusahaan yang sama sampai beberapa tahun? Dan dia mulai mengaitkan itu semua dengan urusah ibadahnya. Urusan ketuhanannya.
Mungkin benar, Allah masih sangat sayang kepadanya, dia masih diberi banyak rizki untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tapi bagi seorang laki-laki, gajih yang dia dapatkan saat ini sangatlah kurang. Belum untuk menabung, dan segala macamnya walaupun Allah masih dengan tulus memberi dia rizki, pekerjaan yang layak untuknya. Tapi, itu semua belumlah cukup. Tak berkembang. Dan dia kembali berpikir mengapa seperti itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar